Henypsary's Blog

Juni 8, 2010

menganalisis cerpen

Filed under: Uncategorized — henypsary @ 7:04 am

Tujuan Pembelajaran:

Siswa diharapkan mampu menganalisis nilai-nilai kehidupan cerpen dalam kumpulan cerpen.

Membaca Kumpulan Cerpen.

Mungkin, kamu pernah membaca buku kumpulan cerpen, baik kumpulan cerpen dari seorang pengarang maupun kumpulan cerpen dari berbagai pengarang cerpen. Tentunya, kamu masih ingat bagaimana cara menganalisis cerpen tersebut.
Pada pelajaran kali ini, kamu akan belajar menganalisis nilai-nilai kehidupan dalam kumpulan cerpen.

Untuk menemukan nilai-nilai kehidupan dalam cerpen, kalian harus menganalisis beberapa hal, antara lain adalah:

  1. kejadian atau peristiwa apa yang terjadi dalam cerpen?
  2. siapa saja yang terlibat atau pelaku?
  3. di mana dan kapan terjadi?
  4. mengapa dapat terjadi?
  5. bagaimana kejadiannya?

Setelah menganalisis hal-hal tersebut yang merupakan penjabaran dari tema, penokohan, latar, dan alur cerita, kamu dapat menyimpulkan amanat atau nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam cerpen. Nilai-nilai kehidupan tersebut meliputi, nilai sosial, nilai moral, nilai religi atau agama, nilai budaya, kemasyarakatan dan kemanusiaan yang sangat berperan dalam
kehidupan. Makna dari nilai-niai tersebut adalah:

1. Nilai Sosial :

Keadaan seseorang sebagai individu tidak terlalu penting. Tetapi individu ini secara bersama membantu masyarakat yang selaras akan menjamin kehidupan yang lebih baik bagi masing-masing individu. Manusia tidak bisa lepas hidup sendiri terpisah dari yang lainnya. Lebih-lebih bila seseorang belum mampu menyelesaikan kebutuhan jasmaninya sendiri walaupun itu yang paling sederhana, seperti seorang anak kecil yang belum mampu mengerjakan sendiri
untuk mencukupi kebutuhannya seperti misalnya mandi, makan, berpakaian, dan sebagainya tanpa bantuan orang lain baik itu ayah, ibu maupun kakaknya. Jadi, Kita harus sailing membantu jika orang lain dalam kesusahan sebagai makhluk sosial.

2. Nilai Moral

Moral merupakan tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari nilai baik-buruk, benar dan salah berdasarkan adapt kebiasaan dimana individu itu berada. Kita sebagai sesama manusia hendaknya jangan saling mengejek atau menghina orang lain tetapi harus saling menghormati.

3.  Nilai Agama

Kita harus selau malakukan kehendak Allah dan jangan melakukan hal yang dilarang oleh-Nya. Jadi juga memperhatikan nilai agama yang ada dalam cerpen yang kita baca.

4.  Nilai Pendidkan

Kita tidak boleh putus asa dalam menghadapi kesulitan tetapi harus selalu berusaha dengan sekuat tenaga dan selalu berdoa.

5. Nilai Adat

Kita harus menjalankan segala perintah Tuhan dan memegang teguh nilai nilai dalam masyarakat.

6. Nilai Estetika

Semua karya sastra atau karya seni memiliki keindahan apabila terdapat keutuhan antara bentuk dan isi, keseimbangan dan keserasian penampilan dari karya seni yang lain. Nilai keindahan akan tampak lebih relatif, jika yang kita perhatikan adalah penilaian atau penghargaan terhadap sastra itu.

Sastra sebagai cabang seni akan melengkapi sentuhan estetis dengan mengembangkan aspek rasa ini demi sempurnanya aspek keindahan dalam sastra, yang dihubungkan dengan tehnik cerita, gaya bahasa, unsur-unsur yang lain sebagai variasinya. Nilai estetika adalah nilai kesopanan dan budi pekerti atau akhlak. Nilai susila adalah yang berkenan dengan tata krama atau disebut beradab.

Tugas

Bacalah dengan cermat sebuah cerpen berikut!kemudian analisislah nilai sosial, nilai moral,nilai agama, dan nilai adat dari cerpen berikut!

ULASAN CERPEN ” ROBOHNYA SURAU KAMI”

Pernahkah terlintas dalam benak anda, jika anda percaya akan keberadaannya, seperti apakah neraka itu? Orang seperti apa yang masuk ke sana? Kenapa orang masuk ke sana? Ibadah dan agama adalah salah satu bagian utama dari kehidupan bangsa kita Indonesia, jadi sejak kecil istilah surga dan neraka bukanlah hal yang asing bagi telinga kita.

Cerpen yang ditulis tahun 1956 ini sedikit banyak memberikan pandangan akan pertanyaan-pertanyaan tadi, bahkan lebih jauh lagi, menegur kita manusia yang sepertinya lupa hal terpenting dalam beragama tersebut. AA Navis sepertinya melihat kecenderungan yang mengarah pada keadaan ini dan menuangkannya dalam sebuah kisah yang tidak lekang dengan waktu.

Di sebuah desa, ada seorang kakek yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk Tuhan. Baginya bukan suatu masalah jika ia tidak berkeluarga, hidup sendiri tanpa istri yang berada di sisinya saat suka dan duka atau keturunan untuk disayangi dan dikasihi. Menyembah dan mewartakan nama Tuhan adalah segalanya dalam hidupnya.

Ini sudah menjadi keputusan si kakek, bukan karena dorongan orang lain atau keadaan yang memaksanya demikian. Baginya memukul beduk mengingatkan orang lain untuk sembahyang, membaca ayat-ayat suci di Kitab dan memuji nama Tuhan jauh lebih penting daripada kekayaan dan rumah yang megah. Intinya, hidupnya hanya berkisar pada Tuhan, termasuk menjaga surau yang ada di desanya tersebut.

Dengan ahli AA Navis, yang bertindak sebagai narator penghubung dalam kisah ini, memunculkan tokoh Ajo Sidi. Keberadaannya di desa itu populer karena dia pintar membuat banyak kisah dengan karakter orang di desa itu menjadi inti ceritanya. Orang mungkin menyebutnya si pembual namun, karena sejak dahulu manusia selalu tertarik dengan kisah-kisah menarik, orang-orang desa tetap mendengarkan bualan Ajo Sidi tersebut. Kali ini yang menjadi tokoh cerita Ajo Sidi adalah karakter yang menggambarkan si kakek penjaga surau.

Dia mengisahkan seorang yang, seperti halnya si kakek, menyerahkan hidupnya untuk Tuhan. Tokoh ini, yang diberi nama Haji Saleh, sangat meyakini bahwa tiada tempat baginya di akhirat selain di surga. Dengan penuh percaya diri dia menunggu gilirannya untuk ikut rombongan yang masuk ke surga sambil mencibir pada mereka yang masuk ke neraka. Inti terpenting dari cerpen ini dibuat dalam bentuk dialog menarik antara manusia percaya diri dengan Tuhan sendiri. Dalam setiap percakapan kita bisa melihat dan merasakan sedikit demi sedikit Haji Saleh mulai kehilangan kepercayaan dirinya padahal apa yang ditanya oleh Tuhan hanyalah apa yang dikerjakannya selama dia hidup.

Haji Saleh dimasukkan ke neraka, bahkan di saat-saat akhir interogasi Tuhan pun dia sudah merasakan hawa panas di tubuhnya. Dia tidak bisa mengerti mengapa dia yang selama hidupnya hidup untuk Tuhan bisa berada di tempat yang seharusnya, menurutnya, untuk orang-orang yang tidak beribadah dan mengenal Tuhan. Dan dia bukan satu-satunya. Merasa bingung dan tidak puas dengan pengaturan tersebut, Haji Saleh dan sekelompok orang yang berpikiran sama pun kembali menghadap Tuhan. Sekali lagi terjalin percakapan menarik dan kali ini Tuhan menjelaskan mengapa bukan surga yang layak untuk mereka tempati.

Keegoisan manusia digambarkan AA Navis sebagai hal yang membuat beberapa orang bernasib bertolak belakang dengan harapan mereka. Tuhan menciptakan manusia untuk bekerja keras di dunia yang dipersiapkannya. Hidup bersama dengan orang lain dan saling membantu layaknya sesama manusia. Sayang ada orang yang menjadikan Tuhan sebagai intisari kehidupan mereka dan tiada hal lain yang penting. Bahkan mungkin saja ada orang yang rajin ibadah bukan karena kepercayaannya namun karena rasa takut masuk ke neraka, jadi dia beribadah lebih dari orang lain supaya bisa masuk ke surga. Mereka lupa inti terpenting dalam kehidupan tersebut yakni beramal di samping beribadat, dan bagaimana bisa beramal ketika mereka tidak mencari nafkah dan malah menelantarkan keluarganya demi kepentingan diri mereka sendiri di akhirat nantinya.



4 Komentar »

  1. Nilai-nilai yang terdapat di dalam cerpen Robohnya Surau Kami
    • Nilai Sosial :
    Kita harus sailing membantu jika orang lain dalam kesusahan seperti dala cerpen tersebut karena pada hakekatnya kita adalah makhluk sosial.
    • Nilai Moral :
    Kita sebagai sesama manusia hendaknya jangan saling mengejek atau menghina orang lain tetapi harus saling menghormati.
    • Nilai Agama :
    Kita harus selau malakukan kehendak Allah dan jangan melakukan hal yang dilarang oleh-Nya seperti bunuh diri, mencemooh dan berbohong.
    • Nilai Pendidkan :
    Kita tidak boleh putus asa dalam menghadapi kesulitan tetapi harus selalu berusaha dengan sekuat tenaga dan selalu berdoa.
    • Nilai Adat :
    Kita harus menjalankan segala perintah Tuhan dan memegang teguh nilai nilai dalam masyarakat.

    Komentar oleh dhyna90 — Juni 8, 2010 @ 7:38 am | Balas

  2. Nilai-nilai yang terdapat di dalam novel Robohnya Surau Kami

    • Nilai Sosial :
    Kita harus sailing membantu jika orang lain dalam kesusahan seperti dala cerpen tersebut karena pada hakekatnya kita adalah makhluk sosial.
    • Nilai Moral :
    Kita sebagai sesama manusia hendaknya jangan saling mengejek atau menghina orang lain tetapi harus saling menghormati.
    • Nilai Agama :
    Kita harus selau malakukan kehendak Allah dan jangan melakukan hal yang dilarang oleh-Nya seperti bunuh diri, mencemooh dan berbohong.
    • Nilai Pendidkan :
    Kita tidak boleh putus asa dalam menghadapi kesulitan tetapi harus selalu berusaha dengan sekuat tenaga dan selalu berdoa.
    • Nilai Adat :
    Kita harus menjalankan segala perintah Tuhan dan memegang teguh nilai nilai dalam masyarakat.

    Komentar oleh ririithuriza — Juni 8, 2010 @ 7:41 am | Balas

  3. Nilai-nilai yang terdapat di dalam novel Robohnya Surau Kami

    • Nilai Sosial :
    Kita harus sailing membantu jika orang lain dalam kesusahan seperti dala cerpen tersebut karena pada hakekatnya kita adalah makhluk sosial.
    • Nilai Moral :
    Kita sebagai sesama manusia hendaknya jangan saling mengejek atau menghina orang lain tetapi harus saling menghormati.
    • Nilai Agama :
    Kita harus selau malakukan kehendak Allah dan jangan melakukan hal yang dilarang oleh-Nya seperti bunuh diri, mencemooh dan berbohong.
    • Nilai Pendidkan :
    Kita tidak boleh putus asa dalam menghadapi kesulitan tetapi harus selalu berusaha dengan sekuat tenaga dan selalu berdoa.
    • Nilai Adat :
    Kita harus menjalankan segala perintah Tuhan dan memegang teguh nilai nilai dalam masyarakat.

    Komentar oleh weyna — Juni 8, 2010 @ 7:42 am | Balas

  4. Nilai-nilai yang terdapat di dalam novel Robohnya Surau Kami

    • Nilai Sosial :
    Kita harus sailing membantu jika orang lain dalam kesusahan seperti dala cerpen tersebut karena pada hakekatnya kita adalah makhluk sosial.
    • Nilai Moral :
    Kita sebagai sesama manusia hendaknya jangan saling mengejek atau menghina orang lain tetapi harus saling menghormati.
    • Nilai Agama :
    Kita harus selau malakukan kehendak Allah dan jangan melakukan hal yang dilarang oleh-Nya seperti bunuh diri, mencemooh dan berbohong.
    • Nilai Pendidkan :
    Kita tidak boleh putus asa dalam menghadapi kesulitan tetapi harus selalu berusaha dengan sekuat tenaga dan selalu berdoa.
    • Nilai Adat :
    Kita harus menjalankan segala perintah Tuhan dan memegang teguh nilai nilai dalam masyarakat.

    Komentar oleh yuliharianti — Juni 8, 2010 @ 7:58 am | Balas


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: